You need to enable javaScript to run this app.

Tektok Gunung Kembang: Mendaki Sunyi di Kaki Sindoro

  • Senin, 22 Desember 2025
  • Kanghaki
  • 0 komentar
Tektok Gunung Kembang: Mendaki Sunyi di Kaki Sindoro

Senin pagi, 22 Desember 2025, langit Wates masih gelap ketika kami bersiap berangkat. Tepat pukul 05.00 WIB, empat orang dengan tujuan yang sama meninggalkan Kulon Progo menuju Wonosobo. Saya, Kang Haki, bersama Mas Gandul, Mas Affan, dan Mas Huda, menumpang mobil Panther milik Mas Gandul dengan Mas Huda sebagai pengemudi. Perjalanan pagi itu terasa ringan, ditemani obrolan singkat dan udara yang mulai dingin ketika memasuki kawasan pegunungan.

Sekitar 07.30 WIB, kami tiba di Basecamp Lengkong, titik awal pendakian Gunung Kembang. Basecamp ini terasa nyaman, rapi, dan bersih. Setelah registrasi dan mengikuti briefing singkat dari petugas, kami kembali diingatkan tentang satu hal penting yang menjadi ciri khas Gunung Kembang: disiplin menjaga kebersihan. Setiap bungkus makanan dan botol minum dicatat satu per satu—tak boleh ada yang tertinggal di gunung.

Gunung Kembang, dengan ketinggian sekitar 2.340 mdpl, terletak di Dukuh Blembem Kaliurip, Desa Damarkasihan, Kecamatan Kertek, Wonosobo. Gunung ini sudah dikenal para pendaki sejak 1993, dan resmi dibuka untuk pendakian umum pada 1 April 2018. Dari dua jalur yang tersedia, kami memilih jalur Lengkong, jalur yang dikenal ramah untuk pemula namun tetap menyuguhkan pemandangan luar biasa.

Langkah pertama dari basecamp menuju Gerbang Ndeles hanya memakan waktu beberapa menit. Jalur awal melewati kebun warga yang tenang, lalu perlahan berubah menjadi hutan pinus yang sejuk. Waktu berjalan tanpa terasa ketika kami melanjutkan ke Pakis Suri dan Ngratan, jalur demi jalur terasa bersahabat, meski tetap menguji napas dan konsistensi langkah.

Memasuki Igir Bima hingga Sri Kumbang, pemandangan mulai terbuka. Sabana luas menyambut kami, dan di kejauhan, Gunung Sindoro berdiri gagah seakan menemani setiap langkah. Jalur yang relatif sepi membuat suasana terasa lebih intim—tidak ramai, tidak tergesa, hanya alam dan langkah kaki.

Tak butuh waktu lama dari Pos Sri Kumbang menuju puncak. Ketika akhirnya tiba di Puncak Gunung Kembang, rasa lelah seketika terbayar. Angin sejuk, langit yang bersih, dan bentang alam Wonosobo tersaji tanpa sekat. Kami mengabadikan momen dengan foto dan video, secukupnya, tanpa tergesa, menikmati sunyi yang jarang ditemui.

Sekitar pukul 11.30 WIB, tepat setelah adzan Dzuhur, kami memutuskan turun. Jalur yang sama membawa kami kembali dengan perasaan puas dan tubuh yang lelah namun ringan. Pukul 13.30 WIB, kami tiba kembali di basecamp. Setelah mandi dan melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar secara jamak, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Wates.

Pendakian singkat ini mungkin hanya tektok, namun Gunung Kembang memberi lebih dari sekadar jalur pendakian. Ia mengajarkan tentang ketertiban, kesadaran menjaga alam, dan menikmati perjalanan tanpa harus berisik. Sebuah perjalanan sederhana, di gunung yang sunyi, namun meninggalkan kesan yang dalam.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Kang Haki

- Ketua -

Jika kamu tak tahan letihnya dan penatnya belajar, maka sungguh kamu akan menanggung perihnya kebodohan (nasehat imam syafi'i). Kulon Progo, 22…

Berlangganan
Jajak Pendapat

Skill apa yang kalian pengin kuasai selama PKL?

Hasil
https://man2bantul.id/https://portal.man2bantul.id/https://sirekap.man2bantul.id/https://eptsp.man2bantul.id/https://smkn5balam.com/https://tuluskartika.or.id/https://smptk.tuluskartika.or.id/https://www.stai-nurulhidayah.ac.id/https://journal.stai-nurulhidayah.ac.id/https://ejurnal.stai-nurulhidayah.ac.id/https://tical2025.redclara.net/https://uptdselatan.com/masterpoker99masterpoker99masterpoker99poker757poker757
masterpoker99masterpoker99masterpoker99masterpoker99inifun88inifun88inifun88https://jrdindustry.com/inifun88inifun88inifun88inifun88inifun88vovo88vovo88vovo88vovo88vovo88
inifun88inifun 88inifun88 logininipokerini pokerinipoker login